Mobogoy kon baraguna

Liga Eropa Musim 2014/2015 di Skynindo HD77, HD99 dan Tanaka T-21 Sky

Berkas CSV Daftar Kode Wilayah Provinsi, Kabupaten dan Kecamatan

Video Kajian Islam Pesona Kenikmatan Akhirat

Video Berbagai Sunnah di Hari Jum’at.

Video Tanya Jawab Tentang ISIS dan Khilafah Islamiyah (Daulah Islam Irak dan Syam)

Hisn Almuslim, Aplikasi Hishnul Muslim untuk Android

Bismillahi nahmaduhu wa nushalli wa nusallimu ‘ala rasulihil karim. Dengan meminta petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya mencoba menuliskan beberapa hal aneh yang hingga saat ini masih ada di kalangan masyarakat dalam hal penentuan awal bulan hijriah selain dua hal yang sudah umum, yaitu hisab dan ru’yat.

Hisab digunakan dalam penentuan bulan yang tidak berkaitan dengan ibadah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan ru’yat digunakan dalam penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah Ta’ala, seperti ibadah bulan Ramadhan, Idul Fithri dan ibadah Haji. Dalil untuk ru’yat sudah jelas, seperti disebutkan di bawah ini.

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilāl) dan berbuka (tidak berpuasa) karena melihatnya pula. Dan jika awan (mendung) menutupi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” HR al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/24) dan Shahiih Muslim (III/122)

“Jika kalian telah melihat hilāl, maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya kembali, maka berpuasalah. Namun, bila bulan itu tertutup dari pandangan kalian (karena awan), maka berpuasalah sebanyak tiga puluh hari.” HR. Bukhari, kitab: Ṣiyām, bab: qaulu an-Nabī, “Idza raiatum al-hilāl faṣūmū…”, no: 1863; dan Muslim, kitab: Ṣiyām, bab: wujūbu Ṣaumi Ramaḍān liru’yati al-hilāl…, no: 1080.

“Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilāl dan jangan pula berbuka hingga melihatnya (terbit) kembali. Namun, jika bulan itu tertutup dari pandanganmu, makan hitunglah (genapkan bulan berjalan hingga 30 hari).” HR Muslim, kitab: Ṣiyām, bab: wujūbu Ṣaumi Ramaḍān liru’yati al-hilāl…, no: 1080.

Yang mengherankan, ada beberapa hal yang tidak pernah dijelaskan dalam agama Islam yang sempurna –apakah dari firman Allah Ta’ala dalam al-Qur`an maupun hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang dewasa ini dijadikan rujukan oleh beberapa pihak untuk menentukan awal bulan hijriah. Mereka yang menggunakan beberapa petunjuk-petunjuk aneh ini, biasanya menggunakannya untuk mencari-cari alasan untuk membenarkan pendapat mereka yang bertentangan dengan dalil-dalil yang ada. Apa saja itu?

  • Air Laut Pasang dan Surut. Telah pasti dari pengetahuan moderen bahwa posisi bulan terhadap bumi mempengaruhi kedudukan pasang dan surut air laut. Tapi sayangnya hal ini bukan pertanda awal bulan hijriah yang diajarkan dalam Islam dan tidak ada satu pun dalil yang menyatakan peristiwa ini sebagai pertanda awal bulan hijriah.
  • Kemunculan hewan tertentu. Seperti jenis ikan yang kemunculannya berhubungan dengan penampakan bulan baru. Meski hal ini terbukti ilmiah, sebagaimana poin pertama, fenomena ini bukanlah dalil untuk pertanda awal bulan hijriah. Tidak ada dalil dalam Islam mengenai hal ini.
  • Melihat penampakan bulan setelah bulan hijriah berjalan. Penampakan bulan yang diamati biasanya di malam ke-2 atau ke-3. Dan biasanya yang melakukan hal ini adalah mereka yang menggunakan hisab untuk menentukan awal bulan, bukan dengan ru’yat. Anehnya, untuk mendukung pendapat hisab mereka, mereka melakukan ru’yat tapi pada saat yang salah. Perintah melihat hilal berada di penghujung hari tanggal 29 bulan hijriah sebelumnya. Bukan di malam ke-2 atau ke-3 bulan hijriah berjalan. Coba perhatikan semua dalil di atas, apakah ada petunjuk untuk melihat hilal di hari ke-2 atau ke-3. Bahkan setelah Nabi memberikan uraian untuk menggenapkan bulan sebelumnya menjadi 30 hari karena terhalang oleh awan sekalipun, Nabi tidak memberikan petunjuk untuk memastikan hilal sudah besar atau belum pada malam ke-2 atau ke-3.

Demikianlah beberapa fenomena aneh yang menjadi patokan awal bulan hijriah. Kenapa disebut “aneh”? Karena hal tersebut tidak diajarkan dalam Islam dan terdengar asing bagi mereka yang memiliki pengetahuan agama. Dan secara umum, setiap hal yang tidak diajarkan dalam Islam, apakah tidak difirmankan oleh Allah dalam al-Qur`an maupun disebutkan dalam berbagai hadits Nabi, semuanya adalah aneh dan tidak bisa dijadikan patokan. Hal yang benar adalah dari Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dari dalil-dalil yang telah disebutkan. Tidak pantas bagi seorang yang beriman untuk menentang dalil-dalil yang jelas tersebut dengan pendapat-pendapat yang menuruti hawa nafsu.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” Q.S. al-Ahzab: 36

Pemilihan presiden Republik Indonesia tahun 2014 kali ini bisa dikatakan salah satu medan perjuangan untuk para anti Islam “fasis”. Saya tidak berkata dengan tanpa alasan, geliat mereka sudah sangat terang-terangan sekarang ini, termasuk di berbagai media sosial. Tapi, apa lagi maksud “fasis” di sini?

Beberapa waktu lalu, beredar tautan tentang salah satu tujuan Prabowo bila nanti terpilih menjadi RI-1 adalah menertibkan geliat gerakan Syi’ah dan Ahmadiyah di Indonesia. Sebagai seorang muslim, yang mengerti bagaimana harkat dan martabat Islam, saya sangat menghargai tekad tersebut. Sayangnya, tindakan ini kemudian dianggap terlalu fasis. Ya, tindakan ini sama fasisnya dengan Nazi yang dahulu membantai etnis Yahudi di Jerman. Nah, karena itulah kata “fasis” tersebut kemudian dilekatkan.

Satu yang saya masih belum mengerti, apakah istilah Islam “fasis” ini ditujukan hanya untuk kubu pendukung Prabowo atau untuk setiap muslim yang membenci Syi’ah dan Ahmadiyah. Bila seandainya opsi pertama maksud mereka, maka yang perlu diperhatikan bahwa kubu Prabowo tidak hanya didukung oleh kaum Muslimin, tapi juga oleh pihak non-muslim. Tapi seandainya opsi kedua yang mereka maksudkan, maka telah nyata dan jelas bahwa umat Islam memang memiliki musuh yang sudah nyata saat ini tapi sayangnya kebanyakan umat Islam belum sadar.

Bagi saya, pilpres RI 2014 yang akan bergulir beberapa bulan lagi, akan menjadi salah satu titik tolak umat Islam. Apalagi kubu Syi’ah yang berjumlah sekitar 3 juta jiwa sudah terang-terangan akan memenangkan kubu Jokowi-JK (http://nasional.inilah.com/read/detail/2105301/jokowi-jk-didukung-syiah-internasional). Bila pun pihak yang menolak Syi’ah dan Ahmadiyah dikatakan sebagai Islam “fasis”, saya sendiri tak mengapa, meskipun saya sendiri akan termasuk pada Islam “fasis” tersebut.

Status Anti Islam "Fasis"

Status Anti Islam “Fasis”

Status Anti Islam "Fasis"

Status Anti Islam “Fasis”

Hari ini secara resmi saya meluncurkan satu situs baru yang mengkhususkan untuk tema seputar balapan. Menggunakan Drupal, saya kemudian akan mencoba membuat situs ini setidaknya akan lebih populer dari pada blog milik saya ini. Semoga saja Drupal yang saya gunakan tidak akan banyak memakan resource.

Masih banyak yang perlu saya siapkan untuk situs baru ini. Mulai dari fitur hasil lomba, klasemen dan lain sebagainya. Tema yang saya gunakan masih tema yang belum termodifikasi dengan baik. Belum lagi soal logo. Setidaknya situs ini sudah responsive untuk bisa ditampilkan di perangkat seperti telepon pintar. Mohon tanggapan juga dari para pembaca. Oh iya, alamatnya adalah Balapan.Web.Id.

Jelas bahwa mukjizat adalah segala keajian atau peristiwa ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Dalam syari’at Islam, jelas yang memiliki mukjizat hanyalah para Nabi dan Rasul Allah yang datangnya mukjizat pun hanya dengan izin Allah Ta’ala, bukan karena kehendak para Nabi dan Rasul tersebut. Ada pun sains, sebagaimana yang tertera dalam KBBI, merupakan pengetahuan sistematis yang diperoleh dari sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari, dsb. Singkat kata, sains adalah yang sesuai sebagaimana mestinya dan mukjizat adalah yang belum tentu sebagaimana mestinya.

Benda jatuh dengan percepatan gravitasi 10 m/s2 atau cahaya bergerak dalam laju 300 km/jam adalah hal yang biasa. Itulah sains dan bisa dibuktikan secara eksperimental. Isra’ Mi’raj sebagai perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha dan menuju ke Sidratul Muntaha adalah salah satu peristiwa yang berada di luar yang biasanya. Itu dalam mukjizat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dialami beliau tapi bukan karena kehendak beliau tapi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Peristiwa Isra’ Mi’raj bisa dibuktikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat terjadinya–sebagaimana beberapa riwayat dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa memberitahukan tentang kafilah yang dilewatinya saat melakukan Isra’–, namun tidak bisa dibuktikan saat ini karena beliau sudah tidak ada. Sehingga yang kita lakukan saat ini hanya bisa mengimaninya. Sampai titik ini, karena sains dan mukjizat memiliki dua pengertian yang berbeda, maka membandingkan keduanya merupakan hal yang tidak sepadan. Maka perdebatan untuk memperseterukan antara keduanya tidak adil lagi.

Baiklah, bagaimana bila beberapa pihak memaksakan bahwa sains harus bisa mengintervensi wilayah kekuasaan Tuhan dalam mukjizat-Nya? Maka ketika membandingkan kelajuan pergerakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Isra’ Mi’raj dengan menggunakan laju gerak cahaya berupa 300 km/jam maka akan didapatkan bahwa ternyata Sidratul Muntaha hanya berjarak sekitar 12.960.000 km dari Bumi, yaitu daerah terluar Sistem Tata Surya Matahari kita, yang bahkan tidak sampai pada daerah terluar galaksi Bimasakti, apalagi daerah terluar jagad raya. Beberapa pihak memberikan prediksi atau bahkan sampai pada tingkat yakin, bahwa suatu saat nanti sains akan bisa menggeser keimanan. Seperti pada kasus ini bila saat ini peristiwa Isra’ Mi’raj hanya dikritisi dan yang paling parah diolok-olok, maka seiring waktu mungkin saja mukjizat ini juga akan ditolak untuk diyakini. Mungkin saja itu hanya kekhawatiran saja.

Coba pikirkan. Bahwa ketika jagad raya terbentuk, yang bermula dari satu titik kecil yang lebih kecil dari atom, yang tiba-tiba meledak membesar seukuran galaksi bimasakti saat itu, semua terjadi hanya dalam satu per sekian detik. Dan dalam sains, yang kemudian itu disebut Teori Big Bang, hal itu termasuk fakta yang biasa. Kekuatan atau gaya dorong yang menyebabkan pemuaian jagad raya begitu hebat. Tapi anehnya setelah diukur, untuk melakukan dorongan sehebat itu hanya dibutuhkan nilai yang sangat kecil dan bahkan nyaris nol yakni sekitar E-122. Maka bayangkanlah hebatnya kekuatan yang disebut energi gelap ini. Subhanallah.

Nah, ternyata tafsir tentang gerak atau penyebab gerakan yang paling laju dalam semesta menurut sains, tidak berhenti pada laju gerak cahaya setelah ditemukannya energi gelap dengan kekuatan dorongannya yang sangat hebat. Maka bila demikian, maka apakah peristiwa Isra’ Mi’raj masih layak untuk dikritisi, yang bahkan tanpa penemuan energi gelap pun, sudah tidak layak dibandingkan karena perbedaan definisi antara sains dan mukjizat?

Bagi orang yang beriman, mereka yakin, sehebat apa pun pengetahuan yang manusia miliki, itu masih jauh dari apa yang diketahui oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Tindakan mengkritisi, mengolok-olok atau menolak peristiwa luar biasa dari-Nya hanya karena kedangkalan pengetahuan kita bukanlah hal yang pantas dipuji atau dikagumi, bahkan suatu tindakan yang tidak bijaksana dan layak untuk dicemooh.