Mobogoy kon baraguna

Archive for the ‘Harian’ Category

Balapan.Web.Id, Situs Baru Berita Balapan

Hari ini secara resmi saya meluncurkan satu situs baru yang mengkhususkan untuk tema seputar balapan. Menggunakan Drupal, saya kemudian akan mencoba membuat situs ini setidaknya akan lebih populer dari pada blog milik saya ini. Semoga saja Drupal yang saya gunakan tidak akan banyak memakan resource.

Masih banyak yang perlu saya siapkan untuk situs baru ini. Mulai dari fitur hasil lomba, klasemen dan lain sebagainya. Tema yang saya gunakan masih tema yang belum termodifikasi dengan baik. Belum lagi soal logo. Setidaknya situs ini sudah responsive untuk bisa ditampilkan di perangkat seperti telepon pintar. Mohon tanggapan juga dari para pembaca. Oh iya, alamatnya adalah Balapan.Web.Id.

Harpitnas (Hari Kejepit Nasional) Ideal

Apa ada harpitnas (hari kejepit nasional) yang ideal? Pastinya ada dong. Ini berlaku untuk mereka yang menerapkan lima hari kerja, mulai dari Senin hingga Jum’at. Dan biasanya yang disebut harpitnas bila satu hari aktif diapit oleh satu hari libur, sehingga satu hari aktif tersebut dijadikan hari cuti bersama. Contohnya bila hari Kamis libur dan Jum’at aktif, maka hari Jum’at dijadikan hari cuti bersama. Demikian pula bila hari Senin aktif tapi hari Selasa libur, maka hari Senin dijadikan hari cuti bersama. Sudah paham cara kerjanya kan?

Tapi coba ambil kejadian di pekan ini, Senin 26 Mei sampai Jum’at 30 Mei 2014. Selasa, 27 Mei 2014 ada hari libur. Kemudian hari Kamis, 29 Mei 2014 juga hari libur. Jadi, bila konsep di atas dijalankan, mestinya hari Senin, 26 Mei dijadikan cuti bersama, demikian pula dengan Jum’at, 30 Mei. Sehingga Senin, Selasa, Kamis dan Jum’at positif libur. Tersisa hari Rabu, 28 Mei. Dan karena hari tersebut diapit berbagai hari libur, maka jadinya pasti diliburkan dong. Nah, akhirnya mulai dari Senin hingga Jum’at akhirnya diliburkan, ditambah Sabtu dan Ahad yang memang merupakan hari libur. Bagaimana? Ideal dan menyenangkan bukan?

Selamat berlibur…!

Ide yang Hilang

Entah kenapa, begitu banyak ide yang terdapat dalam benak, namun seketika itu pula ide tersebut hilang bila sudah menghadap layar laptop. Biasanya ide itu muncul ketika sedang berada di perjalanan, menjelang tidur, makan dan sedikit banyak juga ketika sedang shalat–astaghfirullah yang ini harus sering dihindari.

Apa saja faktor yang bisa membuat ide tersebut hilang dari kepala? Ada banyak. Tetapi juga yang cukup penting adalah maksiat kepada Allah Ta’ala. Bagaimana dulu para ulama dengan sedikit maksiat saja, yang mungkin hanya berupa pandangan sekilas yang tak disengaja, akan mengakibatkan hafalan mereka pudar, berkurang atau hilang. Dan sekecil apa pun itu, itu termasuk musibah yang ditakuti karena berkaitan dengan agama. Kehilangan ide keduniaan tak sebanding besarnya dengan musibah kehilangan hafalan.

Password, Lagi dan Lagi…

Sudah begitu banyak password atau kata sandi yang sudah saya miliki saat ini. Saking banyaknya, saya akan susah mengingat satu-per-satu dan bahkan terkadang harus melakukan kegiatan pengaturan ulang kata sandi agar bisa masuk ke suatu web atau aplikasi. Terutama yang paling sering saya lupa adalah kata sandi yang memang jarang digunakan.

Bila hal ini terjadi terus, nampaknya saya akan butuh aplikasi penyimpanan kata sandi. Mungkin juga cukup dengan melakukan proses sederhana berupa enkripsi pada sebuah berkas teks yang menampung berbagai kata sandi yang saya gunakan. Bila saya harus memilih konsep pertama, berarti saya harus mencari aplikasi yang bisa dijalankan secara portabel dan cross-platform. Dan bila saya harus memilih cara kedua, yang saya perlukan adalah mencari utilitas enkripsi dan dekripsi yang juga cross-platform. Kenapa harus cross-platform? Ya, walaupun saya saat ini sudah sangat jarang menggunakan linux, hal itu bukan berarti tak kan menggunakan linux lagi.

Coding Memang Beda

Membuat kode program alias coding memang bukan hanya sekedar pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Banyak yang memandang aktivitas ini termasuk hobi. Ya, sekedar untuk menghabiskan waktu, membuat program unik, membagikannya ke orang lain atau sekedar untuk otak-atik teknologi baru dalam dunia pengembangan.

Sekitar dua tahun lalu saya meminati hobi baru, yaitu bruting di dunia siaran televisi digital. Ya, sekedar untuk mendapatkan kunci BISS suatu siaran. Sayangnya hobi ini tidak begitu bisa saya selami karena modal yang dibutuhkan cukup besar. Saya hanya menjadi fasilitator untuk rekan-rekan yang ingin menyelami lebih dalam dunia tersebut. Sehubungan dengan ini pula saya mulai meminati kegiatan tracking satelit siaran televisi digital, hingga bergonta-ganti beberapa receiver televisi satelit. Cukup menarik, karena bisa menikmati berbagai siaran dengan gratis.

Dalam perjalanannya saya kemudian bertemu kegiatan baru, yaitu menikmati berbagai serial televisi. Padahal dulunya saya mengira acara serial televisi tak sebegitu menarik dibandingkan film-film box office. Dan ternyata menikmati serial televisi cukup menyenangkan dibandingkan harus menikmati berbagai film yang sering diulang di berbagai kanal siaran televisi.

Saking penasarannya dengan berbagai episode acara serial televisi, saya mengunduhnya langsung dari internet sekaligus teks subtitle bahasa Indonesianya. Nah, di sini saya bertemu hobi baru, yaitu membuat subtitle bahasa Indonesia. Setidaknya hingga sekarang sudah ada 20-an teks subtitle yang saya alih bahasakan dari bahasa Inggris. Hobi ini cukup sulit dan tak semudah yang dibayangkan. Sampai-sampai kita mungkin akan memerlukan kamus untuk bidang tertentu, seperti kamus biologi, fisika hingga bahasa slang.

Nah, dari berbagai hobi yang saya arungi, tampaknya coding adalah hal yang paling berbeda. Bidang ini sangat luas dan bisa membuka berbagai keajaiban baru dalam perjalanannya. Butuh berbagai ide cerdas dan kreativitas bahkan kadang-kadang ide “out of the box” agar bisa menikmati aktivitas ini. Hasil karyanya tidak terbatas demikian pula manfaatnya. Dari hanya sekedar iseng hingga bisa menjadi sesuatu yang sangat-sangat besar dan kompleks. Dan memang hati ini akan susah berpaling dari coding.

Alhamdulillah, Perjalanan yang Dimudahkan

Hanya satu kata untuk menyatakan kesyukuran untuk perjalanan yang lancar dan menyenangkan dan penuh kejutan, alhamduliLlah. Betapa tidak. Pada hari Kamis pagi, 1 Mei 2014 saya memulai perjalanan dari Kotamobagu menuju Bandara Sam Ratulangi Manado sekitar pukul setengah enam. Pesawat dengan tujuan Jakarta yang akan saya tumpangi sedianya berangkat jam sepuluh pagi. Artinya paling lambat saya harus check-in pukul sembilan lewat seper-empat jam. Sayangnya saya saat itu tiba setelah lewat sekitar 35 menit dari pukul sembilan. Loket check-in sudah ditutup. Kemungkinan terbesar untuk saya saat itu adalah membeli tiket baru untuk penerbangan berikutnya. Tapi alhamduliLlah ada kemudahan dan saya pun bisa ikut penerbangan saat itu juga. Tak terbayang bila harus membeli tiket baru, padahal tiket bukan menggunakan dana pribadi melainkan dibiayai oleh panitia.

Perjalanan ke Jakarta pun terasa sekali kemudahannya. Tidak banyak guncangan yang dijumpai selama perjalanan. Dan saya tergolong yang susah tidur selama perjalanan udara. Sedikit saja guncangan yang terasa, saya akan langsung terjaga.

Perjalanan balik dari Jakarta menuju Manado, juga begitu menyenangkan. Mencegah kondisi serupa saat berangkat dari Manado, saya tiba di Bandara Sukarno-Hatta sekitar 3 jam dari jam keberangkatan. Dan seperti perjalanan pergi, penerbangan pulang pun tanpa ada goncangan berarti. Bahkan saya sempat tertidur beberapa saat selama perjalanan.

Sesampainya di Manado, perjalanan darat menuju Kotamobagu tak kalah mudahnya. Alhamdulillah, walau pun dalam perjalanan, mobil yang saya tumpangi sering kejar-kejaran, saya sampai di rumah dengan selamat dan berkumpul dengan orang tua, isteri dan anak. Sungguh perjalanan yang dimudahkan.

Liburan Pengawas Ujian Nasional

Kemarin adalah hari terakhir Ujian Nasional untuk SMK/MAK. Dalam kegiatan tersebut, aku bertugas sebagai pengawas UN yang ditempatkan di sekolah lain, istilah kerennya “pengawas silang”. Dan berhubung, sekolah baru aktif lagi pada hari Senin pekan depan, saya berinisiatif melakukan liburan. Ya, liburan seorang pengawas UN.

Untuk liburan hari ini, saya mengambil tempat di suatu pantai yang terletak sekitar 50 km lebih dari rumah. Untuk ke sana, saya menggunakan transportasi roda dua. Sendirian? Tidak, tapi berempat. Saya, istri dan dua anak kecil saya. Nekat? Tidak juga sih, karena ini kali kedua kami berkendara menggunakan sepeda motor ke pantai ini.

Alhamdulillah, perjalanan pergi dan pulan tidak ada masalah yang berarti. Kami kembali dengan selamat. Dan liburannya? Alhamdulillah sangat menyenangkan. Anak sulung saya yang biasanya takut ombak laut, kali ini bermain dengan riang gembira. Pun anak kedua saya, walau tidak basah-basahan seperti kakaknya, tapi terlihat ceria dan menikmati suasana pantai.