Mobogoy kon baraguna

Archive for the ‘Islam’ Category

Video Kajian Islam Pesona Kenikmatan Akhirat

Video Kajian Islam Pesona Kenikmatan Akhirat

Video Berbagai Sunnah di Hari Jum’at

Video Berbagai Sunnah di Hari Jum’at.

Video Tanya Jawab Tentang ISIS dan Khilafah Islamiyah (Daulah Islam Irak dan Syam)

Video Tanya Jawab Tentang ISIS dan Khilafah Islamiyah (Daulah Islam Irak dan Syam)

Beberapa Hal Aneh dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah

Bismillahi nahmaduhu wa nushalli wa nusallimu ‘ala rasulihil karim. Dengan meminta petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya mencoba menuliskan beberapa hal aneh yang hingga saat ini masih ada di kalangan masyarakat dalam hal penentuan awal bulan hijriah selain dua hal yang sudah umum, yaitu hisab dan ru’yat.

Hisab digunakan dalam penentuan bulan yang tidak berkaitan dengan ibadah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan ru’yat digunakan dalam penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah Ta’ala, seperti ibadah bulan Ramadhan, Idul Fithri dan ibadah Haji. Dalil untuk ru’yat sudah jelas, seperti disebutkan di bawah ini.

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilāl) dan berbuka (tidak berpuasa) karena melihatnya pula. Dan jika awan (mendung) menutupi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” HR al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/24) dan Shahiih Muslim (III/122)

“Jika kalian telah melihat hilāl, maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya kembali, maka berpuasalah. Namun, bila bulan itu tertutup dari pandangan kalian (karena awan), maka berpuasalah sebanyak tiga puluh hari.” HR. Bukhari, kitab: Ṣiyām, bab: qaulu an-Nabī, “Idza raiatum al-hilāl faṣūmū…”, no: 1863; dan Muslim, kitab: Ṣiyām, bab: wujūbu Ṣaumi Ramaḍān liru’yati al-hilāl…, no: 1080.

“Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilāl dan jangan pula berbuka hingga melihatnya (terbit) kembali. Namun, jika bulan itu tertutup dari pandanganmu, makan hitunglah (genapkan bulan berjalan hingga 30 hari).” HR Muslim, kitab: Ṣiyām, bab: wujūbu Ṣaumi Ramaḍān liru’yati al-hilāl…, no: 1080.

Yang mengherankan, ada beberapa hal yang tidak pernah dijelaskan dalam agama Islam yang sempurna –apakah dari firman Allah Ta’ala dalam al-Qur`an maupun hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang dewasa ini dijadikan rujukan oleh beberapa pihak untuk menentukan awal bulan hijriah. Mereka yang menggunakan beberapa petunjuk-petunjuk aneh ini, biasanya menggunakannya untuk mencari-cari alasan untuk membenarkan pendapat mereka yang bertentangan dengan dalil-dalil yang ada. Apa saja itu?

  • Air Laut Pasang dan Surut. Telah pasti dari pengetahuan moderen bahwa posisi bulan terhadap bumi mempengaruhi kedudukan pasang dan surut air laut. Tapi sayangnya hal ini bukan pertanda awal bulan hijriah yang diajarkan dalam Islam dan tidak ada satu pun dalil yang menyatakan peristiwa ini sebagai pertanda awal bulan hijriah.
  • Kemunculan hewan tertentu. Seperti jenis ikan yang kemunculannya berhubungan dengan penampakan bulan baru. Meski hal ini terbukti ilmiah, sebagaimana poin pertama, fenomena ini bukanlah dalil untuk pertanda awal bulan hijriah. Tidak ada dalil dalam Islam mengenai hal ini.
  • Melihat penampakan bulan setelah bulan hijriah berjalan. Penampakan bulan yang diamati biasanya di malam ke-2 atau ke-3. Dan biasanya yang melakukan hal ini adalah mereka yang menggunakan hisab untuk menentukan awal bulan, bukan dengan ru’yat. Anehnya, untuk mendukung pendapat hisab mereka, mereka melakukan ru’yat tapi pada saat yang salah. Perintah melihat hilal berada di penghujung hari tanggal 29 bulan hijriah sebelumnya. Bukan di malam ke-2 atau ke-3 bulan hijriah berjalan. Coba perhatikan semua dalil di atas, apakah ada petunjuk untuk melihat hilal di hari ke-2 atau ke-3. Bahkan setelah Nabi memberikan uraian untuk menggenapkan bulan sebelumnya menjadi 30 hari karena terhalang oleh awan sekalipun, Nabi tidak memberikan petunjuk untuk memastikan hilal sudah besar atau belum pada malam ke-2 atau ke-3.

Demikianlah beberapa fenomena aneh yang menjadi patokan awal bulan hijriah. Kenapa disebut “aneh”? Karena hal tersebut tidak diajarkan dalam Islam dan terdengar asing bagi mereka yang memiliki pengetahuan agama. Dan secara umum, setiap hal yang tidak diajarkan dalam Islam, apakah tidak difirmankan oleh Allah dalam al-Qur`an maupun disebutkan dalam berbagai hadits Nabi, semuanya adalah aneh dan tidak bisa dijadikan patokan. Hal yang benar adalah dari Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dari dalil-dalil yang telah disebutkan. Tidak pantas bagi seorang yang beriman untuk menentang dalil-dalil yang jelas tersebut dengan pendapat-pendapat yang menuruti hawa nafsu.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” Q.S. al-Ahzab: 36

Perjuangan Anti Islam “Fasis” di Pilpres RI 2014

Pemilihan presiden Republik Indonesia tahun 2014 kali ini bisa dikatakan salah satu medan perjuangan untuk para anti Islam “fasis”. Saya tidak berkata dengan tanpa alasan, geliat mereka sudah sangat terang-terangan sekarang ini, termasuk di berbagai media sosial. Tapi, apa lagi maksud “fasis” di sini?

Beberapa waktu lalu, beredar tautan tentang salah satu tujuan Prabowo bila nanti terpilih menjadi RI-1 adalah menertibkan geliat gerakan Syi’ah dan Ahmadiyah di Indonesia. Sebagai seorang muslim, yang mengerti bagaimana harkat dan martabat Islam, saya sangat menghargai tekad tersebut. Sayangnya, tindakan ini kemudian dianggap terlalu fasis. Ya, tindakan ini sama fasisnya dengan Nazi yang dahulu membantai etnis Yahudi di Jerman. Nah, karena itulah kata “fasis” tersebut kemudian dilekatkan.

Satu yang saya masih belum mengerti, apakah istilah Islam “fasis” ini ditujukan hanya untuk kubu pendukung Prabowo atau untuk setiap muslim yang membenci Syi’ah dan Ahmadiyah. Bila seandainya opsi pertama maksud mereka, maka yang perlu diperhatikan bahwa kubu Prabowo tidak hanya didukung oleh kaum Muslimin, tapi juga oleh pihak non-muslim. Tapi seandainya opsi kedua yang mereka maksudkan, maka telah nyata dan jelas bahwa umat Islam memang memiliki musuh yang sudah nyata saat ini tapi sayangnya kebanyakan umat Islam belum sadar.

Bagi saya, pilpres RI 2014 yang akan bergulir beberapa bulan lagi, akan menjadi salah satu titik tolak umat Islam. Apalagi kubu Syi’ah yang berjumlah sekitar 3 juta jiwa sudah terang-terangan akan memenangkan kubu Jokowi-JK (http://nasional.inilah.com/read/detail/2105301/jokowi-jk-didukung-syiah-internasional). Bila pun pihak yang menolak Syi’ah dan Ahmadiyah dikatakan sebagai Islam “fasis”, saya sendiri tak mengapa, meskipun saya sendiri akan termasuk pada Islam “fasis” tersebut.

Status Anti Islam "Fasis"

Status Anti Islam “Fasis”

Status Anti Islam "Fasis"

Status Anti Islam “Fasis”

Mukjizat dan Sains Jelas Berbeda, Tinjauan Isra’ Mi’raj

Jelas bahwa mukjizat adalah segala keajian atau peristiwa ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Dalam syari’at Islam, jelas yang memiliki mukjizat hanyalah para Nabi dan Rasul Allah yang datangnya mukjizat pun hanya dengan izin Allah Ta’ala, bukan karena kehendak para Nabi dan Rasul tersebut. Ada pun sains, sebagaimana yang tertera dalam KBBI, merupakan pengetahuan sistematis yang diperoleh dari sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari, dsb. Singkat kata, sains adalah yang sesuai sebagaimana mestinya dan mukjizat adalah yang belum tentu sebagaimana mestinya.

Benda jatuh dengan percepatan gravitasi 10 m/s2 atau cahaya bergerak dalam laju 300 km/jam adalah hal yang biasa. Itulah sains dan bisa dibuktikan secara eksperimental. Isra’ Mi’raj sebagai perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha dan menuju ke Sidratul Muntaha adalah salah satu peristiwa yang berada di luar yang biasanya. Itu dalam mukjizat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dialami beliau tapi bukan karena kehendak beliau tapi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Peristiwa Isra’ Mi’raj bisa dibuktikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat terjadinya–sebagaimana beberapa riwayat dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa memberitahukan tentang kafilah yang dilewatinya saat melakukan Isra’–, namun tidak bisa dibuktikan saat ini karena beliau sudah tidak ada. Sehingga yang kita lakukan saat ini hanya bisa mengimaninya. Sampai titik ini, karena sains dan mukjizat memiliki dua pengertian yang berbeda, maka membandingkan keduanya merupakan hal yang tidak sepadan. Maka perdebatan untuk memperseterukan antara keduanya tidak adil lagi.

Baiklah, bagaimana bila beberapa pihak memaksakan bahwa sains harus bisa mengintervensi wilayah kekuasaan Tuhan dalam mukjizat-Nya? Maka ketika membandingkan kelajuan pergerakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Isra’ Mi’raj dengan menggunakan laju gerak cahaya berupa 300 km/jam maka akan didapatkan bahwa ternyata Sidratul Muntaha hanya berjarak sekitar 12.960.000 km dari Bumi, yaitu daerah terluar Sistem Tata Surya Matahari kita, yang bahkan tidak sampai pada daerah terluar galaksi Bimasakti, apalagi daerah terluar jagad raya. Beberapa pihak memberikan prediksi atau bahkan sampai pada tingkat yakin, bahwa suatu saat nanti sains akan bisa menggeser keimanan. Seperti pada kasus ini bila saat ini peristiwa Isra’ Mi’raj hanya dikritisi dan yang paling parah diolok-olok, maka seiring waktu mungkin saja mukjizat ini juga akan ditolak untuk diyakini. Mungkin saja itu hanya kekhawatiran saja.

Coba pikirkan. Bahwa ketika jagad raya terbentuk, yang bermula dari satu titik kecil yang lebih kecil dari atom, yang tiba-tiba meledak membesar seukuran galaksi bimasakti saat itu, semua terjadi hanya dalam satu per sekian detik. Dan dalam sains, yang kemudian itu disebut Teori Big Bang, hal itu termasuk fakta yang biasa. Kekuatan atau gaya dorong yang menyebabkan pemuaian jagad raya begitu hebat. Tapi anehnya setelah diukur, untuk melakukan dorongan sehebat itu hanya dibutuhkan nilai yang sangat kecil dan bahkan nyaris nol yakni sekitar E-122. Maka bayangkanlah hebatnya kekuatan yang disebut energi gelap ini. Subhanallah.

Nah, ternyata tafsir tentang gerak atau penyebab gerakan yang paling laju dalam semesta menurut sains, tidak berhenti pada laju gerak cahaya setelah ditemukannya energi gelap dengan kekuatan dorongannya yang sangat hebat. Maka bila demikian, maka apakah peristiwa Isra’ Mi’raj masih layak untuk dikritisi, yang bahkan tanpa penemuan energi gelap pun, sudah tidak layak dibandingkan karena perbedaan definisi antara sains dan mukjizat?

Bagi orang yang beriman, mereka yakin, sehebat apa pun pengetahuan yang manusia miliki, itu masih jauh dari apa yang diketahui oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Tindakan mengkritisi, mengolok-olok atau menolak peristiwa luar biasa dari-Nya hanya karena kedangkalan pengetahuan kita bukanlah hal yang pantas dipuji atau dikagumi, bahkan suatu tindakan yang tidak bijaksana dan layak untuk dicemooh.

Benda, Makhluk Hidup dan Makhluk Bernyawa

Dalam Islam, merupakan dosa besar ketika seseorang menggambar atau membentuk rupa suatu makhluk bernyawa. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiaLlahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya kurang lebih,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tiada seseorang yang lebih dzalim dari pada orang yang bermaksud menciptakan ciptaan seperti ciptaan-Ku. (Oleh karena itu) Maka cobalah mereka menciptakan seekor semut kecil, atau sebutir biji-bijian, atau sebutir biji gandum.”

Diriwayatkan pula dari Aisyah radhiaLlahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,
“Manusia yang paling pedih siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang membuat penyerupaan dengan makhluk Allah.”

Juga riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiaLlahu ‘anhu, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,
“Setiap mushawwir (perupa) berada di dalam neraka, dan setiap rupaka yang dibuatnya diberi nafas untuk menyiksa dirinya dalam neraka Jahannam.”

Juga riwayat berikut yang masih dari Ibnu ‘Abbas,
“Barangsiapa yang membuat rupaka di dunia, maka kelak (pada hari kiamat) ia akan dibebani untuk meniupkan ruh ke dalam rupaka yang dibuatnya, namun ia tidak bisa meniupkannya.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Jika tidak ada jalan lain kecuali engkau harus menggambar maka gambarlah pepohonan dan sesuatu yang tidak bernyawa.”

Sebuah riwayat dalam Musnad Ahmad, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiaLlahu ‘anhu, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jibril ‘alaihis salam telah datang kepadaku dan berkata, ‘Tadi malam aku telah datang kepadamu dan tidak ada yang menghalangiku untuk masuk rumah yang kamu berada di dalamnya kecuali karena di dalamnya terdapat patung seorang laki-laki dan juga terdapat tirai yang bergambar patung, oleh karena itu perintahkanlah untuk memotong kepala patung tersebut hingga seperti bentuk pohon dan perintahkan pula untuk memotong tirai yang bergambar patung untuk dijadikan bantal yang diduduki, serta perintahkanlah untuk mengeluarkan anjing’.” Maka Rasulullah melakukannya, lalu tiba-tiba anjing milik Hasan dan Husain radhiaLlahu ‘anhuma berlari di bawah meja keduanya, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “Dan Jibril masih memberi nasehat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga sehingga aku menyangka atau mengira bahwa dia mendapatkan hak waris.”

Juga riwayat dalam Sunan Tirmidzi, masih dari Abu Hurairah radhiaLlahu ‘anhu, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jibril datang kepadaku, kemudian dia berkata, ‘Sesungguhnya tadi malam aku datang kepadamu, dan tidak ada yang menghalangiku masuk menemuimu dalam rumah yang kamu tempati, kecuali karena pada pintu rumah ada gambar seorang lelaki, dan di dalam rumah ada tabir tipis yang bergambar dan ada anjingnya, perintahkan agar kepala gambar-gambar yang ada di pintu dipotong dan jadikan seperti bentuk pohon, perintahkan agar tabir itu dipotong kemudian dijadikan dua bantal yang di hamparkan dan di jadikan tempat sandaran serta perintahkan agar anjing itu dikeluarkan dari rumah’.” Lalu Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam melakukannya, anjing itu adalah anak anjing yang di jadikan mainan untuk Hasan dan Husain, kemudian Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam memerintahkan supaya anjing tersebut di keluarkan.

Beberapa hal yang dikandung dari berbagai riwayat di atas, sebagaimana yang diungkapkan dalam Kitab Tauhid, oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi, yaitu: (1) Ancaman berat bagi para perupa makhluk yang bernyawa; (2) Hal itu disebabkan karena tidak berlaku sopan santun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firmanNya, “Dan tiada seseorang yang lebih zhalim dari pada orang yang menciptakan seperti ciptaan-Ku”; (3) Firman Allah, “Maka cobalah mereka ciptakan seekor semut kecil, atau sebutir biji-bijian, atau sebutir biji gandum,” menunjukkan kekuasaan Allah, dan kelemahan manusia; (4) Ditegaskan dalam hadits bahwa para perupa adalah manusia yang paling pedih siksanya; (5) Allah akan membuat ruh untuk setiap rupaka yang dibuat guna menyiksa perupa tersebut dalam neraka Jahannam; (6) Perupa akan dibebani untuk meniupkan ruh ke dalam rupaka yang dibuatnya; (7) Perintah untuk memusnahkan rupaka apabila menjumpainya.

Selain itu, dibolehkan untuk menggambar sesuatu dengan kriteria gambar tersebut berupa pepohonan atau makhluk yang tidak bernyawa. Kita semua sudah tahu mengenai apa yang dimaksud dengan pohon atau tumbuhan. Nah, bagaimana dengan definisi makhluk bernyawa? Bila diambil kesimpulan dari beberapa riwayat di atas, maka pepohonan atau tumbuhan termasuk makhluk hidup tapi tidak memiliki nyawa. Penguatnya adalah kita tidak dibolehkan menggambar makhluk bernyawa tapi menggambar pepohonan atau tumbuhan dibolehkan.

Selanjutnya makhluk hidup yang memiliki nyawa adalah makhluk hidup yang memiliki organ yang disebut kepala. Bila kepala tersebut dipotong, maka makhluk hidup tersebut akan nampak seperti pohon atau berarti nyawanya akan hilang atau mati. Penguatnya adalah perintah untuk menghilangkan kepala setiap rupaka makhluk bernyawa, sehingga ia akan nampak seperti pohon. Sebagaimana yang kita ketahui, pohon tidak memiliki kepala. Dan pada beberapa jenis tumbuhan, bahkan bila dipotong dua kemudian ditanam terpisah, maka ada kemungkinan keduanya akan hidup.

Dengan demikian, dalam klasifikasi benda-benda di jagad raya, bisa dibedakan menjadi dua kategori besar. Benda mati dan benda hidup (makhluk hidup). Makhluk hidup terbagi dalam dua atau tiga bagian besar, yaitu: tumbuhan dan hewan dan manusia–yang oleh beberapa pihak termasuk dalam kategori hewan. Selain itu, makhluk hidup ada yang memiliki nyawa dan ada yang tidak memiliki nyawa. Dunia tumbuhan termasuk dalam makhluk hidup tidak bernyawa. Sedangkan kerajaan hewan, sebagian besar termasuk dalam kategori makhluk hidup bernyawa. Kecuali mereka yang memenuhi kriteria berikut: (1) tidak memiliki kepala–yaitu organ tubuh yang pada manusia dan beberapa jenis hewan merupakan tempat otak, pusat jaringan saraf, dan beberapa pusat indra; (2) memiliki organ yang disebut kepala, tapi bila kepala tersebut dipotong alias diputuskan dari tubuhnya, makhluk hidup tersebut tidak akan mati alias terus hidup.

Beberapa riwayat hadits di atas, selain memaparkan tentang ketauhidan dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga ternyata sedikit memaparkan tentang rahasia sains. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Insya Allah tulisan ini masih bersambung dan akan dilanjutkan.

Islam dan Umur Langit dan Bumi

Sudah banyak tulisan atau blog yang membahas tentang umur langit dan bumi dalam al-Qur`an. Tulisan saya kali ini pun tampaknya tidak akan banyak berbeda. Sebagaimana yang dikutip dalam al-Qur`an bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan langit dan bumi dalam enam masa (QS.Al-Sajdah 32:4), serta menciptakan bumi sebagai tempat tinggal dalam dua masa (QS. Fushshilat 41:9). Sehingga bila dibuatkan dalam perbandingannya sebagai berikut.
Lama penciptaan langit dan bumi : Lama penciptaan bumi = 6 masa : 2 masa = 3 : 1

Perbandingan ini ternyata adalah hal yang dibuktikan secara ilmiah dari berbagai pengamatan para astronom. Antara lain yang sudah ditayangkan dalam serial Cosmos: A Space-Time Odyssey hingga episode ketujuh The Clean Room atau pun yang bisa kita saksikan dalam History of World on Two Hours di mana Bumi terbentuk saat sudah melewati dua per tiga sejarah jagad raya.

Satu hal menakjubkan dalam al-Qur`an yang membuktikan kebenarannya.

Ketauhidan dalam Islam dan Komet

Sungguh suatu hal yang mengejutkan bahwa episode ketika serial Cosmos: A Space-Time Odyssey mengangkat tema tentang ketakutan. Ya, episode berjudul “When Knowledge Conquered Fear” bercerita tentang kisah berbagai kebudayaan terdahulu tentang perbintangan. Terutama untuk kemunculan komet yang kemudian dianggap sebagai suatu pertanda musibah dengan berbagai tafsirannya. Apakah itu wabah penyakit, gagal panen, kelaparan, kematian, kebakaran dan lain sebagainya. Di akhir cerita, setelah munculnya sains, komet kemudian tidak lagi dianggap sebagai suatu hal yang mengerikan.

Jauh sebelum sains menyadarkan tentang hakikat komet pada masyarakat barat, Islam telah menetapkan untuk hal apa perbintangan itu bisa bermanfaat.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Shalih bin Kaisan dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dari Zaid bin Khalid Al Juhaini bahwasanya dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin kami shalat Shubuh di Hudaibiyyah pada suatu malam sehabis turun hujan. Setelah selesai Beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak lalu bersabda: “Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?” Orang-orang menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: ‘(Allah berfirman): ‘Di pagi ini ada hamba-hamba Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Orang yang berkata, ‘Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya’, maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata, ‘(Hujan turun disebabkan) bintang ini atau itu’, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang’.” (H.R. Bukhari)

Al-Bukhari juga meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa Qatadah mengatakan, “Allah menciptakan bintang-bintang ini, untuk tiga hikmah, sebagai hiasan langit, sebagai alat pelempar setan dan sebagai tanda-tanda untuk petunjuk (arah dan sebagainya). Karena itu, barangsiapa dalam masalah ini berpendapat selain tersebut, maka dia telah salah dan menyia-nyiakan nasibnya serta membebani diri anda dengan hal yang di luar batas pengetahuannya.”

Kedua riwayat di atas secara umum menyatakan bahwa takdir manusia, baik dan buruknya, tidak ada sangkut pautnya dengan perbintangan –termasuk apa yang mereka sebut dengan astrologi atau zodiak. Ini merupakan tauhid dalam Islam. Ketika kita mengkaitkan takdir manusia, baik dan buruknya, terhadap bintang-bintang maka hal itu telah mengotori tauhid kita dan membuat kita melakukan salah satu tindak kesyirikan.

Bagaimana pula dengan gerhana? Di mana peristiwa gerhana di berbagai tempat punya mitos tersendiri.
Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar berkata, telah telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits berkata, telah menceritakan kepada kami Yunus dari Al Hasan dari Abu Bakrah berkata: “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Beliau keluar dengan menyingsingkan selendangnya hingga tiba di masjid. Maka orang-orang berkumpul mengelilingi Beliau. Lalu Beliau memimpin shalat bersama mereka dua raka’at hingga matahari kembali nampak. Kemudian Beliau bersabda: “Matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah dan keduanya tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena kematian seseorang. Jika terjadi gerhana, maka dirikanlah shalat dan banyaklah berdo’a hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian”. Peristiwa ini berkenaan ketika putra Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Ibrahim wafat yang manusia kemudian memperbincangkannya”. (H.R. Bukhari)

Demikianlah, bahkan untuk peristiwa gerhana, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menyangkutkannya dengan peristiwa kematian puteranya sendiri. Suatu kaidah yang sangat kuat dalam membentengi umat Islam dari hal-hal yang berbau kesyirikan yang akan menggerogoti tauhid.

Islam membebaskan pemikiran kolot yang menggerogoti umat manusia selama berabad-abad tentang perbintangan menuju pemikiran yang lebih waras dan jernih dengan segala manfaatnya. Sains yang kemudian datang di kemudian hari pun melakukan hal yang serupa. Walau kemudian banyak dinampakkan dalam berbagai publikasi bahwa Islam itu sama dengan dengan kebudayaan kuno yang lain.

Mungkin satu hal membedakan antara pembebasan yang dilakukan oleh Islam dan sains adalah muaranya. Islam semata-mata melakukannya untuk tauhid kepada Allah Ta’ala, sedangkan sains –yang kebanyakan dipresentasikan oleh mereka yang atheis dan anti-theis– lebih suka memuarakannya ke materialisme.

Tersebut dalam Sejarah

Bangsa Arab terkenal akan kemampuan dalam menghafal nasab (garis keturunan). Tidak seperti kebanyakan bangsa yang memiliki nama yang panjang –seperti Indonesia yang memiliki nama hingga tiga kata atau yang kebanyakan menggunakan nama marga– bangsa Arab hanya memiliki satu kata untuk nama mereka sendiri. Lantas dari mana mereka dikenali dengan lebih spesifik? Dari nama orang tua yang biasanya disebutkan mengikuti nama mereka.

Misalkan seseorang memiliki nama Abdullah bin Umair yang berarti Abdullah anak dari Umair, dengan kata lain Abdullah tersebut memiliki bapak yang bernama Umair. Nah bagaimana dengan Umair sendiri? Andaikan saja Umair itu adalah Umair bin Khalid yang berarti Umair adalah namanya dan nama bapaknya adalah Khalid. Maka si Abdullah sendiri akan dikenali sebagai Abdullah bin Umair bin Khalid yang berarti memiliki bapak bernama Umar dan kakek bernama Khalid. Demikianlah hal ini berlangsung dalam sejarah bangsa Arab, sehingga nasab mereka bisa dikenali dengan mudah dan garis keluarga mereka terjaga dengan baik. Sehingga ada yang disebut Bani Hasyim (yang berarti keturunan Hasyim), Bani Quraisy (yang berarti keturunan Quraisy) dan yang lainnya.

Adapun tujuan tulisan saya kali ini bahwa nasab adalah suatu hal yang tercatat dalam sejarah dan suatu bukti akan sejarah umat manusia. Nasab yang telah dikuasai oleh bangsa Arab untuk mereka sendiri ini akan menunjukkan garis keturunan terdahulu dari umat manusia.

Dan berbagai nasab yang ada, garis keturunan Muhammad bin Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan salah satu yang terkenal. Beliau adalah keturunan Ismail bin Ibrahim dan keturunan Adam. Bukti yang menunjukkan bahwa nenek moyang umat manusia adalah seorang manusia, yaitu Adam ‘alaihis-salam. Tidak ada lagi orang sebelum beliau ‘alaihis-salam. Yang mestinya bila ada pastilah akan tercantum dalam nasab tersebut.

Walau pun ada beberapa hal yang sedikit kabur dalam garis keturunan tersebut –terutama untuk beberapa garis keturunan langsung antara Ibrahim dan Adam–, tapi hal itu tidak menafikan secara mutlak bahwa awal mula keturunan semua manusia bersambung dan berawal dari Adam ‘alaihis-salam. Sayangnya, ilmu nasab ini hanya terkenal di bangsa Arab dan tidak untuk yang selainnya. Sehingga mungkin hal ini akan ditolak dalam sains moderen yang lebih memilih menggunakan teori evolusi dan mengkerabatkan manusia dengan kera. Dan walau ilmu nasab ini sudah lama dikenal di bangsa Arab, tapi di kalangan sosial moderen baru mulai diperkenalkan lagi dengan nama genealogy. Keterlambatan ini cukup menghambat untuk melakukan napak tilas menuju bapak kita, Adam ‘alaihis-salam.

Bagaimana dengan Anda? Berkerabat dengan siapakah Anda?


Silsilah Keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam