Mobogoy kon baraguna

Archive for the ‘Opini’ Category

Haruskah Jusuf Kalla Mengambil Posisi Cawapres Lagi?

Lima tahun yang lalu, saya menulis sebuah tulisan di blog saya yang lama tentang Jusuf Kalla (JK) dan alasan kenapa dia harus mengambil keputusan menjadi calon presiden (capres) saat itu. Ketika tulisan itu ditulis, JK belum lagi mendaftarkan diri sebagai capres. Setelah beberapa hari–mungkin juga dalam hitungan pekan–barulah JK mendeklarasikan diri sebagai capres dengan Wiranto sebagai pasangan cawapresnya. Tulisan itu ditulis sebagai dukungan saya agar beliau maju sebagai capres dan tidak perlu risau dengan keputusan tersebut–saat itu Partai Golkar termasuk ragu-ragu dalam mendukung JK sebagai capres.

Walau akhirnya kalah karena SBY-Boediono terpilih sebagai RI 1 dan 2 dalam satu putara pemilihan presiden (pilpres), saya salut dan bangga dengan keputusan JK saat itu. Meski sebagian besar menyatakan keputusan JK ketika itu bukan termasuk berani tapi nekat. Dan terbukti, tidak terpilihnya JK sebagai presiden, oleh banyak orang cukup disesali terutama karena kinerja SBY di periode keduanya sebagai kepala negara dinilai tak cukup baik seperti periode pertamanya.

Nah, bagaimana dengan kondisi sekarang ini, Ketika JK kemudian menjadi cawapres dari Joko Widodo? Berbalik dengan kondisi lima tahun lalu, saya mengatakan kecewa dengan keputusan ini. Sebagai orang Sulawesi, keputusan mengambil posisi cawapres kali ini, termasuk menghinakan harga diri bagi saya. Keputusan seorang Abu Rizal Bakrie (ARB)–seorang yang cukup tidak saya sukai karena beberapa kasus perusahaannya– yang merelakan posisi capres dan hanya menjadi pendukung Prabowo-Hatta, dalam hal ini masih lebih saya sukai.

Pada pilpres lima tahun lalu, beliau berpisah dari SBY dan menobatkan dirinya menjadi capres, walau berbagai opini dan survei sangat tidak mendukungnya. Dan ketika itu juga, SBY terbilang masih mengharapkan beliau mau berdampingan lagi sebagai wapres untuk melanjutkan pembangunan di periode kedua. Dan saya menganggap penolakan tawaran itu sebagai bentuk interpretasi membela harga diri.

Dan sekarang? Beliau mengambil lagi posisi tawar yang lebih rendah itu. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, saya cukup tidak suka kali ini. Bagi saya, mengambil tawaran SBY untuk wapres untuk periode kedua masih lebih logis. Terlepas kemudian setelah itu, mau melanjutkan dengan mendeklarasikan sebagai capres pada pilpres tahun ini atau tidak. Atau, tak usahlah menjadi cawapres untuk Jokowi saat ini, cukup dengan mendukungnya saja saya masih akan tetap mendukung keputusan beliau. Dan bila saya tidak keliru, belum ada capres pada pilpres sebelumnya “turun tahta” menjadi cawapres pada pilpres berikutnya, kecuali JK dan Wiranto. Mohon dikoreksi bila saya keliru.

Meskipun demikian, maksud tulisan ini bukanlah untuk mengatakan beliau tak memiliki harga diri. Beliau pastilah memiliki alasan tersendiri. Ini hanyalah pandangan pribadi saya tentang satu keputusannya pada pilpres tahun ini. Beliau adalah orang yang hebat –saya termasuk yang memberikan “jempol” untuk fanpage beliau di fb– dengan berbagai tindakan hebat. Dan saya memohon maaf dengan sangat kepada beliau bila ternyata hal yang saya ungkapkan ini menyinggung perasaan beliau.

Prediksi Darwin dan Seks

Episode ke-6 serial Cosmos: A SpaceTime Odyssey yang berjudul “Deeper, Deeper, Deeper, Still” tampaknya episode yang ingin menekankan tentang eksplorasi bagian-bagian terdalam dari berbagai benda dan makhluk. Mulai dari klorofil, atom, foton hingga neutrino. Sedikit di antaranya adalah ulangan dari episode terdahulu.

Di episode ini pula tercatat bahwa Darwin setelah melakukan pengamatan pada sejenis anggrek yang memiliki bentuk bunga yang memanjang. Ia pun mengemukakan pendapatnya bahwa ada suatu serangga yang memiliki lidah yang cukup panjang, yang dipakai untuk menggapai bagian terdalam dari bunga tersebut, sehingga memungkinkan terjadinya penyerbukan pada bunga tadi. Padahal –dikemukakan pula– orang-orang belum pernah mengamati ada serangga seperti itu yang ditemukan sebelumnya. 50 tahun setelah prediksi tersebut barulah ternyata serangga tersebut ditemukan, yaitu berupa ngengat dengan lidahnya yang panjang.

Walau tidak secara eksplisit, namun pada bagian tersebut seakan ada penggiringan opini untuk mempercayai teori evolusi. Bahwa ketika pertama bunga tersebut ditemukan si serangganya belum ada, bahkan baru setelah 50 tahun kemudian serangga tersebut muncul. Seolah hewan tersebut tiba-tiba muncul dari peristiwa evolusi dalam kurun 50 tahun tadi karena adanya habitat baru, yaitu bunga anggrek tadi.

Pendapat Darwin di atas sebenarnya bukan suatu prediksi seperti pernyataan, “sekarang belum ada dan nanti akan ada”. Tapi sebenarnya lebih mirip dengan pernyataan, “sekarang belum teramati –mungkin karena bersembunyi–tapi sebenarnya sudah ada”. Dan prediksi seperti itu sah-sah saja dan tidak membuktikan apa pun untuk mendukung teori evolusi.

Prediksi seperti ini mirip seperti seks. Bila kita menemukan suatu spesies yang berkelamin jantan, maka secara otomatis kita akan memprediksikan bahwa ada juga sebagian dari spesies tersebut yang berkelamin betina. Tidak menemukan bukan berarti tidak ada, tapi tidak ditemukan karena suatu hal, apakah bersembunyi atau mungkin saja sudah musnah.

Idealnya, hal yang berpasangan itu akan tetap bertahan bila keduanya tetap ada. Bunga anggrek yang diamati Darwin sedianya tetap ada dan bertahan hidup karena siklus hidupnya terjaga –dari biji tumbuh menjadi tanaman dewasa, berbunga, penyerbukan dan menghasilkan biji– dengan bantuan ngengat yang memiliki lidah yang panjang untuk melakukan penyerbukan. Ketika populasi ngengat tersebut musnah, maka otomatis siklus hidup anggrek tersebut tidak akan lagi berjalan normal dan pasti akan menuju kemusnahan juga. Sehingga pahamlah kita, kenapa saat itu dengan yakin Darwin mengemukakan prediksi tentang serangga yang konon belum pernah terlihat. Sebabnya adalah bunga anggrek itu masih ada dan belum musnah.

Namun prediksi seperti itu tidak sepenuhnya akan terpenuhi pada beberapa kasus yang memiliki lebih dari satu faktor yang berpengaruh. Seperti kasus terbaru saat ini tentang populasi lebah yang semakin berkurang, di mana lebah ini juga memiliki tugas sebagai penyerbuk. Apa saja yang diserbukkan oleh lebah? Berbagai macam bunga yang kita pandangi dan berbagai jenis buah yang kita nikmati. Bila nanti lebah benar-benar musnah, akankah kita tidak lagi menikmati bunga dan buah? Belum tentu. Beberapa bunga dan buah, selain diserbukkan oleh serangga seperti lebah, juga bisa diserbukkan oleh air, angin atau pun dengan bantuan manusia. Saat itu, prediksinya bukan lagi tentang “ada”, tapi “pernah ada”.

Prediksi “ada” atau “pernah ada” sekali lagi bukanlah bukti tentang evolusi. Kita menginginkan prediksi tentang “akan ada” mengenai makhluk hidup. Seperti halnya ketika kita mengatakan bila saya bergerak dengan kelajuan sekian kilometer per jam, maka saya akan menempuh jarak sekian meter bila gaya gesek antara sepatu yang saya pakai dengan jalan serta gaya gesek dengan udara sekian newton di tambah energi yang saya miliki tersisa hanya sekian joule. Atau seperti prediksi tentang apa yang akan terjadi pada matahari pada beberapa ratus tahun kemudian.

Hantu Teori Big Bang dan Tulang Teori Evolusi

Masih segar dalam ingatan bagaimana Teori Big Bang dan Teori Evolusi disandingkan sebagai hal yang sama dalam episode kedua serial Cosmos: A Space-Time Odyssey. Keduanya merupakan fakta dalam sains. Tentunya dengan maksud bahwa walau pun dalam taraf teori, proses evolusi makhluk hidup memiliki derajat yang sama terbukti secara ilmiah dengan teori big bang. Benarkah hal itu?

Pada episode keempat serial yang sama, diuraikan tentang sifat cahaya yang mampu merambat pada laju 300.000 km per detik. Jarak tempuh cahaya per detik tadi itulah yang kemudian disebut satu detik cahaya. Sehingga bila disebut satu jam cahaya berarti itu adalah jarak yang bisa ditempuh cahaya dalam satu jam perjalanannya, yaitu sekitar 3600 detik × 300.000 km/detik = 1.080.000.000 km. Dengan sifat cahaya berbagai bintang –yang kemudian disebut hantu– inilah kita bisa melihat bagaimana sifat ruang alam semesta, seperti yang kemudian dijelaskan lebih lanjut pada episode kelima serial yang sama, yaitu dengan mengamati spektrum cahaya. Dari pengamatan tersebut, kita bisa mengetahui jarak antar obyek di ruang angkasa, bagaimana gerakannya, bagaimana kondisinya, termasuk bagaimana kondisi alam semesta paling awal dan prediksi kondisi alam semesta berikutnya. Sehingga teori ledakan besar merupakan fakta ilmiah.

Di bidang lain, yaitu biologi, berkembang ilmu taksonomi yang memperbandingkan morfologi berbagai hewan. Pada dasarnya ilmu taksonomi ini melakukan klasifikasi atas banyak tidaknya kemiripan antar spesies. Dan setelah lahirnya teori evolusi, ilmu ini kemudian dijadikan seperti ilmu kekerabatan antar spesies. Dan untuk hal kekerabatan ini, tulang-belulang adalah bukti sandarannya. Dengan menunggangi keajaiban dalam molekul DNA, evolusi pun diklaim sebagai hal yang ilmiah. Suatu hal rumit yang disederhanakan agar masuk akal dan dengan demikian bisa dikatakan sebagai fakta ilmiah dan bisa disetarakan dengan teori ledakan besar. Tapi benarkah demikian bahwa keduanya setara sebagai fakta?

Teori ledakan besar merupakan hal yang terumuskan, terhitungkan dan terprediksikan berikut dampak-dampaknya. Banyak hal dalam bidang astrofisika yang semula hanya berupa perhitungan matematis namun ternyata benar, semisal energi gelap dan lubang hitam. Tapi bagaimana dengan teori evolusi? Bagian mana yang terprediksikan? Bagian mana dari suksesor berbagai makhluk hidup yang terdapat rumusannya? Bagaimana hitungan matematisnya? Teorinya, dengan berbagai kesamaan DNA dan peluang terjadinya mutasi DNA –yang sering digembar-gemborkan para pendukung teori evolusi– belum ada prediksi untuk berbagai suksesor jutaan spesies yang sudah ada di saat ini untuk ke depannya. Misalnya seperti yang saya pertanyakan pada tulisan sebelumnya, bagaimana suksesor Tardigrade berikutnya? Bahkan yang terjadi saat ini, hanyalah pencocokan spesies yang sudah ada atau yang pernah ada dan kemudian mengatakan mereka berkerabat.

Nyatanya, teori ledakan besar dan teori evolusi tidaklah setara.

Tardigrade dan Bertahan Hidup

Ramai kita ketahui bahwa dunia adalah tempat untuk berkompetisi untuk bertahan hidup. Siapa yang bertahan maka akan mampu meneruskan keturunan. Tidak ada yang menyanggah hal ini. Kerajaan hewan adalah salah satu yang menerapkan hal ini dengan nyata.

Di dunia sains, teori evolusi salah satu yang menerapkan konsep ini dalam berbagai penjelasannya. Agar dapat bertahan hidup, evolusi mutlak diperlukan. Ketika zaman es, beruang cokelat digambarkan berubah menjadi beruang putih –sebagai cikal bakal beruang kutub– sehingga bisa bertahan hidup di lingkungan yang ekstrim.

Bicara tentang lingkungan ekstrim, tersebutlah satu satwa yang benar-benar bisa bertahan di habitat yang ekstra ekstrim. Tardigrade atau disebut juga beruang air (waterbear) atau babi lumut (mosspiglets). Seberapa ekstrim lingkungan atau keadaan yang bisa diadaptasi oleh Tardigrade? Berikut di antara kemampuannya.

  • Tardigrade bisa bertahan hidup beberapa menit pada suhu 151 °C (304 °F) atau dibekukan selama berhari-hari di suhu −200 °C (-328 °F). Beberapa bahkan bisa bertahan hidup di suhu −272 °C (~1 degree above absolute zero or -458 °F) selama beberapa menit.
  • Mereka bisa bertahan pada tekanan rendah ekstrim di ruang hampa dan juga pada tekanan yang sangat tinggi, lebih dari 1.200 kali tekanan atmosfir. Tardigrade dapat bertahan di ruang hampa di ruang angkasa bersama dengan radiasi matahari selama 10 hari. Beberapa bahkan bisa bertahan pada tekanan 6.000 atm, yang artinya sama dengan enam kali tekanan di palung lautan paling dalam, palung Mariana.
  • Satwa ini juga tahan terhadap radiasi, sekitar 1.000 kali tahan lebih dari binatang lainnya, yaitu dosis mematikan rata-rata dari 5.000 Gy (dari sinar gamma) dan 6.200 Gy (dari ion berat) pada hewan yang terhidrasi. Bahkan telurnya pada saat teradiasi masih bisa menetas pada kondisi tertentu.

Tardigrade pertama kali ditemukan tahun 1773 dan tercatat sudah sekitar 1.150 jenis tardigrade yang ditemukan sejak tahun 1778. Walau pun demikian, ia tergolong kelompok hewan purbakala, yang telah ada sekitar 530 juta tahun yang lalu.

530 juta tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kehidupan satwa beruang-air ini. Dengan rentang waktu yang selama itu, mestinya spesies ini sudah banyak mengalami evolusi. Seperti pada episode kedua serial Cosmos: A Space-Time Odyssey yang berbicara tentang kemampuan evolusi. Walau pun kemampuan bertahan hidup tardigrade sangat memuaskan, harusnya masih banyak yang bisa dikembangkan oleh makhluk tingkat rendah ini. Apakah itu mengembangkan sistem penglihatan atau indera lainnya. Atau pun sekedar mengembangkan ukuran tubuhnya.

Nyatanya hingga saat ini, tardigrade tidak banyak berubah, masih seperti dulu. Lalu, apa dan mana suksesor tardigrade selama 530 juta tahun ini? Tentunya selama itu pastinya telah terjadi pengembangan kemampuan yang semakin lebih baik untuk kemampuan bertahan hidup yang semakin lebih baik pula.

Mungkin seperti seekor laba-laba atau velvet worm yang bisa bertahan di suhu air mendidih. Keduanya, berasal dari Arthropoda dan Onychophora yang merupakan kerabat terdekat Tardigrade. Tapi yang kita jumpai adalah hal berbeda. Walaupun ketiganya memiliki kekerabatan dalam pohon taksonomi –yang diperlihatkan dari sisi morfologi yang memang mirip–, tapi dari sisi bertahan hidup ketiganya memiliki perbedaan yang sangat mencolok.

Ngomong-ngomong, Tardigrade hanyalah satu dari sekian banyak makhluk hidup yang diklasifikasikan sebagai Extremophile, yaitu kelompok satwa yang bisa hidup dalam kondisi ekstrim. Masih banyak lagi makhluk hidup lain yang memiliki kemampuan serupa.

Lantas, di mana evolusi dan buktinya untuk masalah ini? Mungkin suatu saat nanti pendukung teori evolusi akan menemukan seekor mutan mamalia bertulang belakang, berkaki delapan atau enam, dengan cakar sekuat beruang, yang mampu bertahan di berbagai kondisi ekstrim, sebagai bukti bahwa tardigrade pun berevolusi.

Bila Isaac Newton Bertemu al-Qur`an

Seorang Isaac Newton dikisahkan dalam episode ketiga serial “Cosmos: A Space-Time Odyssey” sebagai seorang yang mengasingkan diri. Beliau menyendiri akibat tindakan “usil” dari Robert Hooke. Dalam kesendiriannya Isaac Newton pun mendalami beberapa hal, termasuk kimia dan alkitab.

Dalam pengasingannya, Sir. Isaac Newton berharap dapat menemukan cara membuat emas dan perak, meramu resep keabadian dan menemukan kapan hari kebangkitan. Namun akhirnya, perburuannya dalam bidang kimia dan alkitab tak membuahkan hasil.

Saya tidak tahu apakah saat itu Islam sudah sampai ke kampung halaman Newton atau belum. Tapi saya sempat mengandaikan apa yang terjadi bila Newton mengkaji al-Qur`an saat itu. Mungkin akan banyak hal yang bisa didapatnya, walau satu hal yang pasti bahwa tiga hal yang diburunya di atas tak kan didapatkannya juga –bahkan sampai sekarang ketiga hal itu masih hal yang mustahil. Setidaknya dia akan mendapatkan hal-hal baru yang bisa dipelajari tentang sains atau bahkan spiritualnya.

Lebah Penting Bukan Hanya Karena Madunya

Iya, selama ini kita berpikir bahwa lebah merupakan serangga yang penting dalam kehidupan karena apa yang ia produksi. Ternyata ada hal lain yang begitu penting yang terlewati dari kehidupan serangga sosial ini. Apa yang tidak begitu teramati tersebut adalah bantuannya terhadap proses penyerbukan.

Pada tumbuhan yang memiliki bunga diperlukan penyerbukan untuk menghasilkan buah atau biji. Dan tersebutlah beberapa jenis penyerbukan pada bunga, seperti dengan perantaraan angin, air, serangga atau pun bantuan manusia. Penyerbukan dengan perantaraan serangga biasanya melibatkan beberapa jenis serangga, seperti lebah, kupu-kupu, lalat dan sejenisnya. Namun pada bidang ini, lebahlah yang paling banyak berperan penting.

Namun sayangnya beberapa waktu ini populasi lebah semakin berkurang. Bahkan dalam sebuah prediksi, bila penurunan populasi lebah terjadi dengan deret seperti yang sedang terjadi sekarang ini, bisa jadi pada 2035 lebah akan hilang dari Amerika Serikat. Di Cina, dewasa ini beberapa pertanian bahkan terpaksa menggunakan penyerbukan buatan dengan bantuan manusia, karena lebah sudah tidak lagi ditemukan. Suatu hal yang cukup menggelisahkan.

Apa faktor yang menyebabkan turunnya populasi lebah? Ada banyak faktor, di antaranya seperti penggunaan pestisida dan virus. Namun yang diduga lebih besar adalah virus yang mematikan.

Semoga saja, populasi lebah akan kembali normal. Tidak mampu kiranya saya membayangkan bahwa nanti kebanyakan tanaman akan diserbukkan secara manual oleh para petani karena tidak ada lagi serangga yang membantu. Subhanallah, lebah yang berukuran mini, begitu besar manfaatnya bagi umat manusia.

Menunggu Provinsi Bolaang Mongondow Raya

Kemarin sepulang sekolah, saya membaca salah satu harian yang terbit di daerah saya, Bolaang Mongondow. Ada berita yang cukup menyenangkan. Dikabarkan bahwa tapal batas di beberapa kabupaten di Bolaang Mongondow sudah mencapai kesepakatan dengan beberapa kabupaten lain di daerah Minahasa. Mengapa ini sebuah kabar gembira? Karena penetapan tapal batas ini merupakan sebuah titik acuan baru dalam penetapan atau pemekaran provinsi Bolaang Mongondow Raya. Selama tapal batas belum jelas, pembentukan provinsi baru hanyalah sebatas impian. Jadi, saat ini saya secara resmi menunggu lahirnya provinsi Bolaang Mongondow Raya.