Mobogoy kon baraguna

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Evolusi Memang Teori Acak

Demikianlah teori evolusi menempatkan dirinya. Kejadian mutasi DNA yang terjadi secara acak dalam populasi dan menghasilkan sesuatu yang baru. Sehingga yang baru tersebut menjadi cikal bakal suatu spesies baru. Demikian seperti yang bisa disaksikan dalam episode kedua dalam serial Cosmos: A Space-Time Odyssey. Benarkah demikian?Sayangnya saya lebih suka menganggap bahwa itulah yang menjadikan evolusi sebagai teori yang begitu acak, tidak karuan dan tidak akan ada keindahan di sana. Coba kita lihat satu per satu.

Beruang cokelat dengan mutasi DNA tiba-tiba menghasilkan beruang putih –cikal bakal beruang kutub– dalam suatu proses acak semasa jaman es yang cukup panjang. Pernahkah kita memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi saat itu? Beruang cokelat yang tidak memiliki pengalaman bertahan di dunia es, berhadapan dengan lingkungan ekstrim. Berdasarkan seleksi alam, apakah mereka akan bisa bertahan saat itu? Apakah mereka akan punya kesempatan memperoleh mangsa dengan mudah dengan warna cokelatnya ketika berada di hamparan putihnya es saat itu? Berdasarkan episode yang kita lihat, nampak bahwa beruang cokelat tidak akan bisa bertahan dengan mudah dan kemungkinan akan musnah. Nah, bila beruang cokelat tersebut tidak bisa bertahan hidup lantas dari mana akan muncul beruang putih?

Jawabannya, berdasarkan pemaparan di episode tersebut, bahwa lingkungan ekstrim tersebutlah yang tiba-tiba memunculkan beruang putih secara acak. Akan muncul banyak pertanyaan filosofis dari berbagai praduga evolusi ini. Mungkin akan ada yang bertanya tentang berapa lama lingkungan ekstrim akan membuat perubahan itu dalam kasus ini? Apakah seketika saat beruang cokelat menginjakkan kakinya di hamparan es yang berwarna putih? Atau saat beruang cokelat sudah sangat lapar mungkin sehingga membangkitkan kemampuan tersebut –yang terdengar seperti dongeng di film-film Holywood. Tapi yang perlu diketahui, bila waktu kemunculannya tidak tepat –seperti sesaat sebelum mati karena kelaparan– maka akan sia-sia perubahan tersebut. Ingat ini proses acak dalam populasi beruang!

Baiklah, anggap saja hal itu terjadi pada waktu yang tepat dan kemudian terjadilah mutasi pada warna beruang tersebut. Pertanyaan berikut, berapa banyak persentase perubahan warna tersebut terjadi? Yang perlu dicatat, bila persentasenya yang kecil maka itu tidak akan terlalu membawa dampak yang baik untuk kelangsungan hidup beruang tersebut. Ingat ini proses acak dalam populasi beruang!

Anggap saja kita setuju bahwa persentasenya antara 70 persen hingga 100 persen. Pertanyaan lainnya, berapa banyak yang warnanya putih dibanding warna yang lain? Apa ada yang berwarna kuning? Atau malah semakin gelap dan menjadi warna hitam? Kenapa tidak menghasilkan warna yang transparan saja yang lebih hebat dalam penyamaran –seperti beberapa spesies di lautan? Dan perubahan warna yang tidak sesuai akan berakibat fatal untuk kelangsungan hidup beruang tersebut. Kembali di ingat bahwa ini adalah proses acak dalam populasi beruang!

Berikutnya, berapa banyak populasi beruang di padang es yang luas saat itu? Apakah cukup untuk membuat seluruh kemungkinan yang muncul karena acak untuk menghasilkan si putih? Berapa banyak yang langsung mati kedinginan? Berapa banyak yang terkubur hidup-hidup dalam es?

Pertanyaan-pertanyaan filosofis saya seperti di atas mungkin baru sedikit di banding milik orang lain. Dan patut digaris-bawahi bahwa walaupun ini hanya berupa pertanyaan filosofis, tapi juga bisa dikategorikan sebagai variabel. Bisakah variabel-variabel ini dihilangkan agar lebih mudah mendongengkannya di sekolahan? Jangan tanyakan itu, karena itu bagaikan seperti menghilangkan hakikat kehidupan itu sendiri. Seperti menghilangkan lensa dari mata. Seakan menghilangkan oksigen dari air. Bagaikan menghilangkan gaya dari tekanan dan semisalnya.

Tugas Terakhir Sebagai Wali Kelas di Ujung Tahun 2013

Sudah hampir lima tahun menjadi guru PNS di salah satu sekolah, baru tahun ini saya menjadi wali kelas. Dan alhamduliLlah, hari ini saya melaksanakan salah satu tugas wali kelas, yaitu membagikan rapor. Kegiatan ini juga sekaligus sebagai tugas terakhir saya sebagai wali kelas di ujung tahun 2013.

Kelas saya terbilang unik, karena hanya terdiri dari 16 peserta didik –paling sedikit di antara semua kelas yang ada. Sedikitnya peserta didik, tidak berarti menjadikan tugas wali kelas berkurang. Namun setidaknya ada keuntungan dalam hal administrasi, seperti penulisan rapor –tentunya saya tidak akan terlalu capek seperti mereka yang memiliki lebih dari 40 peserta didik.

Sebagaimana halnya tadi dalam pembagian rapor. Saya mengundang orang tua siswa bagi mereka yang memiliki masalah selama satu semester ini. Selain itu si siswa bisa menerima rapor sendiri tanpa diwakili oleh orang tua. Dan dalam hitungan saya cuma ada 25% siswa atau empat orang siswa yang bisa menerima rapor sendiri. Dan rapor yang berhasil diterimakan hari ini berjumlah sembilan orang atau 50% lebih sedikit.

Ketika saya membandingkan persentase rapor yang terterima hari ini dengan kelas teman saya yang memiliki jumlah siswa lebih dari 40 peserta didik, hasilnya mirip. Walaupun persentasenya mirip, setidaknya jumlah siswa yang membuat pusing tidak lebih dari 20 orang yang berarti angka 50% untuk kelas teman saya tadi. Hehehe.

Ketika Ingin Belajar Tingkat Lanjut

Sudah lama saya tidak buka-buka portal berita. Hari ini saya menyempatkan untuk baca-baca berita dari beberapa media daring. Dan ada beberapa berita yang membuat saya ingin berkomentar. Salah satunya adalah kasus peredaran uang palsu oleh seorang oknum yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen.

Motif penggunaan uang palsu oleh oknum dosen tersebut adalah kurangnya gaji. Oleh pihak universitas juga mengamini bahwa memang gaji PNS sedikit. Dan ternyata dosen tersebut belum lama mengambil studi lanjut untuk program doktoral. Biasanya ketika studi, berbagai tunjangan yang berhubungan dengan aktif mengajar untuk seorang PNS ditiadakan. Jadi yang diterima adalah gaji bersih beserta beberapa tunjangan. Belum lagi kalau ternyata banyak potongan yang harus dibayarkan.

Yah, nasib menjadi PNS yang ingin belajar tingkat lanjut. Makanya banyak yang belajar dengan mengandalkan beasiswa, kecuali mungkin yang benar-benar mampu membiayai studi.

Saya berpikir, apakah tidak lebih baik bila diadakan tunjangan studi lanjut untuk PNS yang melakukan studi? Saya sendiri belum melakukan studi lanjut. ๐Ÿ™‚

Mahkamah Pendidikan atau Komisi Disiplin Pendidikan

Kemarin saya telah menulis tentang wacana sanksi terhadap sekolah bermasalah. Bagaimana bila wacana tersebut benar-benar terjadi? Tampaknya, Indonesia akan butuh satu lembaga lagi, yang bertugas dalam pemutusan sanksi tersebut. Mungkin biaa diberikan nama “Mahkamah Pendidikan” atau “Komisi Disiplin Pendidikan”.

Apapun nanti namanya, lembaga ini akan memutuskan sanksi apa yang tepat dijatuhkan kepada sekolah bermasalah. Bukan hanya itu, seperti seluruh lembaga hukum, lembaga ini nantinya bisa menerima pengaduan seluruh masalah dalam lingkup pendidikan yang tidak termasuk wilayah lembaga hukum lainnya. Temuan kecurangan dalam UAN misalnya. Atau pengaduan tunjangan sertifikasi yang molor, dll.

Kembali dalam topik sanksi sebelumnya, lembaga ini juga yang berhak mencabut sanksi yang sudah dijatuhkan. Juga lembaga ini wajib menerima banding yang merupakan hak sekolah “tergugat”.

Namun, apakah lembaga ini hanya membawahi lembaga pendidikan saja atau juga untuk oknum yang berada dalam lembaga pendidikan, ini perlu juga didiskusikan.

Akhir kata, semoga pendidikan generasi muda Indonesia semakin baik.

Karena Tawuran, IPA-IPS Dihapus?

Hangat dibicarakan mengenai wacana penghapusan mata pelajaran IPA-IPS di sekolah dasar. Selanjutnya dikonfirmasi bahwa pelajaran tersebut tidak dihapus, namun digabung menjadi IPU (Ilmu Pengetahuan Umum). Kabar-kabar yang beredar hal ini merupakan ekses negatif dari tawuran yang kemarin memakan korban. Nah loe….

Walaupun benang merah dari peristiwa dan wacana di atas tidak nampak –mungkin hanya berupa benang abu-abu– tapi saya melihat wacana lain. Patokan saya adalah peringkat FIFA dari seluruh negara yang ditentukan dari prestasi setiap tim nasional per negara. Bikin saja peringkat seluruh sekolah per tingkat. Dalam hal ini Depdiknas yang berfungsi sebagai ‘FIFA’. Setiap prestasi sekolah menentukan naik atau turunnya peringkat. Jangan lupa, bila ada hal yang dinilai merusak prestasi, ‘FIFA’ bisa saja menghukum dengan menurunkan peringkat ke urutan paling bawah. Dengan hukuman tambahan, misalnya: sekolah tersebut tidak bisa mengikuti seluruh kegiatan atau kompetisi dalam skup rayon hingga internasional selama waktu yang ditentukan; tidak boleh menerima siswa baru pada satu atau beberapa tahun ajaran ke depan; tidak bisa mengikuti UAN untuk tahun ajaran berjalan atau beberapa tahun ke depan; tambahan satu tahun ajaran atau lebih untuk setiap kelas; pengurangan atau penghapusan biaya subsidi pendidikan untuk tahun ajaran berjalan atau beberapa tahun selanjutnya; dll.

Efektif dan efisienkah hal ini? Menurut hemat saya ini akan efektif dan efisien kepada seluruh sekolah. Bukankah hal ini berarti mengorbankan banyak pihak (termasuk siswa dan guru yang tidak terlibat) karena perbuatan secuil siswa? Nah, bukankah banyak pihak tadi (siswa dan guru yang tidak terlibat) juga banyak yang cuek dengan mereka yang sedikit yang berulah? Singkatnya mereka tidak beramar ma’ruf nahyi munkar kepada mereka yang berulah tadi. Bukankah, kapal yang dilobangi oleh satu dua orang akan tetap menenggelamkan seluruh penumpang kapal, bukan hanya mereka yang melobangi kapal tersebut?

Bisa jadi demo besar-besaran akan terjadi untuk menolak konsep saya ini. Solusi bagi siswa yang tidak ingin mendapatkan imbas hukuman terhadap sekolah tempat dia belajar adalah pindah. Ya, pindah ke sekolah lain yang tidak mendapatkan sanksi. Bisa jadi akan terjadi eksodus besar-besaran? Ya, itu bisa jadi! Tapi, seberapa banyak yang bisa pindah dalam sekejap waktu? Walau pun banyak sekolah yang didirikan, namun belum tentu semuanya bisa menyerap seluruh siswa pindahan tadi. Dan perlu juga diketahui, sanksi bisa dicabut sewaktu-waktu bila sekolah tersebut bisa berprestasi kembali. Jadi, tidak perlu pindah sekolah. Cukup dengan membuat sekolah tadi berprestasi lagi, maka sanksi bisa dicabut.

Oya, dalam olahraga, bukan hanya sepakbola yang memberikan sanksi bagi anggota-anggotanya yang terlibat kasus indisipliner. Dalam balapan misalnya, seorang kontestan akan diberikan pinalti bila membahayakan pihak lain. Namun tentunya, wacana ini perlu digodok secara matang agar bisa memberikan efek yang positif. Setidaknya bisa meminimalisir efek negatif yang sudah banyak terjadi. ๐Ÿ™‚

Belajar Dari Corat-Coret Kelulusan Siswa

Apa yang bisa kita pelajari dari kelulusan siswa yang biasanya diwarnai pesta corat-coret seragam sekolah? Uhm, sebenarnya banyak. Tapi saya tidak membahasnya satu per satu. Bahkan yang akan saya tuliskan di sini hanya berkaitan kecil dengan fenomena corat-coret tersebut. Mulai dari mana ya menuliskannya?

Begini, seorang siswa yang bijaksana berencana tidak akan mengikuti pesta corat-coret di sekolah. Beberapa kali ia lari dari kejaran teman-temannya yang mengincar seragamnya untuk dicoret. Walaupun sebenarnya ia sudah menyatakan keinginannya untuk tidak mencoret seragamnya. Akhirnya suatu kesempatan datang dan seragam sekolah yang dikenakannya pun penuh dengan coretan. Hm….

Yah, sebuah semangat untuk memahami keinginan orang lain, menghormati keputusan orang lain, menghargai pendirian orang lain sepertinya belum tertanam pada anak didik kita. Selain itu, sifat tegas untuk menolak yang tidak kita sukai, yang bertentangan dengan hati nurani juga tampaknya tidak mengakar kuat.

Demikianlah, tampaknya masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh para pendidik di tanah air ini untuk memupuk jiwa-jiwa kesatria para penerus negeri ini.