Mobogoy kon baraguna

Posts tagged ‘ramadhan’

Beberapa Hal Aneh dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah

Bismillahi nahmaduhu wa nushalli wa nusallimu ‘ala rasulihil karim. Dengan meminta petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya mencoba menuliskan beberapa hal aneh yang hingga saat ini masih ada di kalangan masyarakat dalam hal penentuan awal bulan hijriah selain dua hal yang sudah umum, yaitu hisab dan ru’yat.

Hisab digunakan dalam penentuan bulan yang tidak berkaitan dengan ibadah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan ru’yat digunakan dalam penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah Ta’ala, seperti ibadah bulan Ramadhan, Idul Fithri dan ibadah Haji. Dalil untuk ru’yat sudah jelas, seperti disebutkan di bawah ini.

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilāl) dan berbuka (tidak berpuasa) karena melihatnya pula. Dan jika awan (mendung) menutupi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” HR al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/24) dan Shahiih Muslim (III/122)

“Jika kalian telah melihat hilāl, maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya kembali, maka berpuasalah. Namun, bila bulan itu tertutup dari pandangan kalian (karena awan), maka berpuasalah sebanyak tiga puluh hari.” HR. Bukhari, kitab: Ṣiyām, bab: qaulu an-Nabī, “Idza raiatum al-hilāl faṣūmū…”, no: 1863; dan Muslim, kitab: Ṣiyām, bab: wujūbu Ṣaumi Ramaḍān liru’yati al-hilāl…, no: 1080.

“Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilāl dan jangan pula berbuka hingga melihatnya (terbit) kembali. Namun, jika bulan itu tertutup dari pandanganmu, makan hitunglah (genapkan bulan berjalan hingga 30 hari).” HR Muslim, kitab: Ṣiyām, bab: wujūbu Ṣaumi Ramaḍān liru’yati al-hilāl…, no: 1080.

Yang mengherankan, ada beberapa hal yang tidak pernah dijelaskan dalam agama Islam yang sempurna –apakah dari firman Allah Ta’ala dalam al-Qur`an maupun hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang dewasa ini dijadikan rujukan oleh beberapa pihak untuk menentukan awal bulan hijriah. Mereka yang menggunakan beberapa petunjuk-petunjuk aneh ini, biasanya menggunakannya untuk mencari-cari alasan untuk membenarkan pendapat mereka yang bertentangan dengan dalil-dalil yang ada. Apa saja itu?

  • Air Laut Pasang dan Surut. Telah pasti dari pengetahuan moderen bahwa posisi bulan terhadap bumi mempengaruhi kedudukan pasang dan surut air laut. Tapi sayangnya hal ini bukan pertanda awal bulan hijriah yang diajarkan dalam Islam dan tidak ada satu pun dalil yang menyatakan peristiwa ini sebagai pertanda awal bulan hijriah.
  • Kemunculan hewan tertentu. Seperti jenis ikan yang kemunculannya berhubungan dengan penampakan bulan baru. Meski hal ini terbukti ilmiah, sebagaimana poin pertama, fenomena ini bukanlah dalil untuk pertanda awal bulan hijriah. Tidak ada dalil dalam Islam mengenai hal ini.
  • Melihat penampakan bulan setelah bulan hijriah berjalan. Penampakan bulan yang diamati biasanya di malam ke-2 atau ke-3. Dan biasanya yang melakukan hal ini adalah mereka yang menggunakan hisab untuk menentukan awal bulan, bukan dengan ru’yat. Anehnya, untuk mendukung pendapat hisab mereka, mereka melakukan ru’yat tapi pada saat yang salah. Perintah melihat hilal berada di penghujung hari tanggal 29 bulan hijriah sebelumnya. Bukan di malam ke-2 atau ke-3 bulan hijriah berjalan. Coba perhatikan semua dalil di atas, apakah ada petunjuk untuk melihat hilal di hari ke-2 atau ke-3. Bahkan setelah Nabi memberikan uraian untuk menggenapkan bulan sebelumnya menjadi 30 hari karena terhalang oleh awan sekalipun, Nabi tidak memberikan petunjuk untuk memastikan hilal sudah besar atau belum pada malam ke-2 atau ke-3.

Demikianlah beberapa fenomena aneh yang menjadi patokan awal bulan hijriah. Kenapa disebut “aneh”? Karena hal tersebut tidak diajarkan dalam Islam dan terdengar asing bagi mereka yang memiliki pengetahuan agama. Dan secara umum, setiap hal yang tidak diajarkan dalam Islam, apakah tidak difirmankan oleh Allah dalam al-Qur`an maupun disebutkan dalam berbagai hadits Nabi, semuanya adalah aneh dan tidak bisa dijadikan patokan. Hal yang benar adalah dari Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dari dalil-dalil yang telah disebutkan. Tidak pantas bagi seorang yang beriman untuk menentang dalil-dalil yang jelas tersebut dengan pendapat-pendapat yang menuruti hawa nafsu.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” Q.S. al-Ahzab: 36

Selamat Idul Fithri 1 Syawal 1434 Hijriah

Tidak terasa, 29 hari lamanya puasa di bulan Ramadhan dijalankan. 1 Syawal 1434 Hijriah pun tiba. Selama itu pula tidak ada tulisan yang sanggup saya muat dalam blog ini, walaupun sebenarnya banyak ide dan cerita yang perlu saya tuangkan dalam tulisan. Tidak mengapa, masih banyak waktu ke depannya untuk menuangkan semua yang tertinggal itu dalam tulisan. Namun yang tidak bisa dibayar sebenarnya adalah waktu-waktu yang terlewati dalam bulan Ramadhan dalam ketersia-siaan, tanpa ada ibadah dan pahala di dalamnya. Atau pun ketidak maksimalan amalan-amalan yang dikerjakan selamar bulan Ramadhan. Dan waktu untuk membayar keteledoran itu adalah sebelas bulan setelah bulan Ramadhan berlalu. Ya, sebelas bulan berikutnya merupakan pengejawantahan nilai-nilai apa yang telah tertanam selama digembleng di bulan Ramadhan. Dengan harapan, semoga kita semua bisa melalui bulan-bulan tersebut dengan nilai-nilai takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amiin….

Selamat Datang Ramadhan 1434 H

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mempertemukan kita dengan Ramadhan 1434 H. Terlebih lagi puasa kali ini kita melaksanakannya berbarengan dengan rata-rata negara di dunia, termasuk negeri tetangga dan timur tengah. Biasanya Indonesia, karena letak geografisnya yang berada di timur dari wilayah Arab, sering waktu puasanya mundur satu hari. Dan biasanya pula pelaksanaan puasa di wilayah Arab sering berbarengan dengan saudara-saudara kita yang sukanya lebih dahulu menentukan hari pelaksanaan puasa dibanding pemerintah. Hanya saja kali ini tidak berbarengan karena lebih dahulu satu hari.

Sebelumnya, tidak berbarengan waktu puasa antara yang ditetapkan oleh pemerintah RI dengan wilayah Arab, juga sering dijadikan dalih oleh mereka bahwa sistem mereka yang lebih bagus –karena sebelum ini merekalah yang berbarengan. Sayangnya, ketika kali ini mereka yang tidak berbarengan, mereka dalih itu pun dilupakan karena akan menyerang balik mereka.

Ah, sudahlah. Kesesuaian waktu puasa atau ied dengan wilayah Arab bukanlah patokan kebenaran sistem penentuan waktu. Kebenaran ialah yang sesuai dengan apa yang disampaikan dalam syari’at Islam. Dalam puasa, kita mengharap pahala dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka memulainya pun harus dengan keridhaan-Nya. Dengan mengikuti penentuan waktu ibadah puasa Ramadhan dan ied oleh pemerintah, setidaknya kita mendapatkan keutamaan.

Yang pertama, keutamaan karena telah mengikuti syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melihat bulan (pemerintah Indonesia menggunakan metode rukyatul-hilal dengan dukungan metode hisab). Yang kedua, keutamaan karena telah berpuasa dan berbuka bersama pemimpin. Kedua keutamaan ini jelas dalam syari’at Islam dengan dalil-dalil pendukungnya. Saya tidak tahu, keutamaan apa yang diperoleh oleh mereka yang menyelisihi pemerintah dalam kasus ini.

Bagaimana bila nanti pemerintah sudah tidak menggunakan rukyatul-hilal lagi, tapi langsung menggunakan hisab? Tetap saja kita masih mendapatkan satu keutamaan dan tambahan keutamaan lain bahwa bila hakim benar mendapatkan dua pahala dan bila hakim salah mendapatkan satu pahala.

Saran saya bagi mereka yang lebih suka menyelisihi pemerintah dalam kasus ini. Yakni, hendaknya mereka berusaha untuk menjadi pemerintah. Ketika mereka menjadi pemerintah, kami akan mendengar, tunduk dan patuh atas apa yang mereka perintahkan dalam kasus ini.

Wallahu ‘alam.

Jadual Sholat Bulan Ramadhan 1433 H Wilayah Kotamobagu Sekitarnya

Berikut ini merupakan jadual sholat bulan Ramadhan 1433 H (atau biasa disebut jadual imsakiyah) untuk wilayah Kotamobagu dan sekitarnya. Semoga bermanfaat.

Jadual Sholat Ramadhan 1433 H Kotamobagu Sekitarnya